• default style
  • blue style
  • green style
  • red style
  • orange style
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Print

Mencari pemimpin mirip Ahok atau Risma

Written by piatur. Posted in Informasi

 

 

Dr Piatur Pangaribuan SH
Ketua Program Studi Pascasarjana Uniba

Dimuat Harian Tribun Kaltim, Head Line, 17 Nopember 2015.

SIKAP masyarakat yang seolah apatis terhadap pelaksanaan Pilkada itu disebabkan dua faktor. Pertama, faktor tidak tersampaikannya sosialisasi ke masyarakat akibat KPU terkuras energi mengurusi gugatan-gugatan. Pilkada yang serentak kali ini mengundang berbagai persoalan. Balikpapan sendiri tak lepas dari permasalahan para calon yang akan maju.

KPU pun terkuras energinya hanya untuk mengurusi gugutan-gugatan, sehingga persiapannya hampir tidak maksimal. Mestinya rentang waktu yang ada, bisa dipakai untuk sosialisasi ke masyarakat, tapi kenyataannya masyarakat tak mengenali calon walikotanya.Faktor yang kedua adalah kesenjangan antara masyarakat dan para calon. Masyarakat telah merasakan hal itu, bagaimana para calon enggan turun langsung ke masyarakat, menyapa, dan berdialog tentang persoalan Balikpapan, di luar kepentingan kampanye. Ini yang tak dimiliki para calon wali kota dan calon wakil wali kota pada pilkada. Jangan salahkan masyarakat ketika tidak tahu kapan pilkada dilaksanakan, dan siapa saja calonnya.

 

Masyarakat merasa tidak ada perubahan apa pun dalam rentang waktu 10 tahun ini. Bahkan sampai ada anggapan yang menyatakan siapa pun pemimpinnya nanti, kita tetap seperti ini saja. Anggapan itu dibuktikan dengan penggunaan APBN maupun APBD yang tidak sungguh-sungguh dirasakan masyarakat.Berdasarkan diskusi antara Uniba dan salah satu anggota DPR RI, ternyata nilai anggaran lain-lain itu lebih tinggi daripada anggaran untuk pengentasan kemiskinan. Sehingga wajar ketika pilkada, masyarakat tak menentukan pilihan dari partai maupun figur pemimpin, melainkan dari besaran uang yang diberikan para calon kepada masyarakat saat kampanye.

Di Balikpapan, sekitar 80 persen penggerak ekonomi dari sektor swasta. Lalau dana APBD Kota Balikpapan itu dikemakan. Masyarakat tidak begitu merasakan kontribusi APBD Kota Balikpapan, malah kontibusi dari perusahaan-perusahaan itulah yang dirasakan masyarakat Balikpapan. Jadi warga Balikpapan ini butuh pemimpin yang tegas, berani, dan mau turun ke kalangan akar rumput. Saya yakin masyarakat tengah menanti figur-figur seperti Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alais Ahok, dan Walikota Surabaya Tri Rismaharini yang mampu memberikan perubahan.

Baik itu di nasional maupun di daerah problemnya sama, bahwa pemimpin itu tersandera politik. Akibatnya negara kita semakin terpuruk, saat negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Thailand, bahkan Vietnam sudah progresif, Indonesia masih begini saja tak ada perubahan berarti. Oleh karena itu, kita harus punya pemimpin yang berani terbebas dari sandera politik dan berani bersaing secara internasional. (*)