• default style
  • blue style
  • green style
  • red style
  • orange style
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Print

Piatur : KPK Harus Punya Sumber Daya Seperti Korea (2)

Written by piatur. Posted in Informasi

 

Dr Piatur Pangaribuan

 Setelah lolos administrasi Calon Pimpinan KPK, Dr Piatur Pangaribuan A.Md, SH, MH mengikuti tahapan penyusunan makalah diri dan kompetensi dua hari lalu.

Pria yang sehari-hari bekerja sebagai Direktur Pasrcasarjana Universitas Balikpapan (Uniba) mengaku mantap mengikuti tahapan kedua itu. Piatur yang dikenal sebagai pendiri Lembaga Bantuan Hukum  (LBH) Uniba dan Ketua Forum Doktor Balikpapan itu dapat menyelesaikan tugas yang diminta Panitia Seleksi (Pansel) Calon Pimpinan KPK dengan baik.  

 Bagaimana cerita Piatur tentang tahapan seleksi Calon Pimpinan KPK dan mimpinya memberantas korupsi di Indonesia, klikbalikpapan.com mendapat kesempatan wawancara di sela kesibukan di ruang kerjanya, Jumat (10/7/2015).

 

 

 Berikut kutipan wawancara:

 

 

 

 

KLIK BALIKPAPAN: Bagaimana menur

ut anda mengatasi kriminalisasi pimpinan KPK?

 

Salah satunya kita harus tunduk pada Undang-Undang. Sebagai pelaksana Undang-Undang, kita harus taat. Contoh, pimpinan KPK harusnya lima orang. Pada faktanya kan sekarang empat, karena dianggap cukup. Tetapi kan ini menjadi ruang tembak koruptor untuk pra pradilan.

 

 

Ini memang debatable. Tapi seandainya mereka kemarin menetapkan sempurna lima orang, kan tidak ada ruang. Inilah yang saya katakan tadi, pemimpin itu harus kuat dan stabil. Kuat dalam artian, semua tindakan harus mengacu pada Undang-Undang. Stabil artinya mandiri, tapi tetap menjalin hubungan sosial. Itulah kesimpulan saya dalam makalah kemarin. KPK sudah menjalankan tugas dengan baik, tetapi perlu dimaksimalkan agar tidak terjadi hal-hal seperti kemarin.

 

 

 

 

KLIK BALIKPAPAN: Soal masa lalu  pimpinan KPK yang menjadi target kriminalisasi. Bagaimana kira-kira anda bisa mengatasi ini?

 

 

Semua orang punya masa lalu. Saya hanya bisa katakan, saya melamar di KPK karena keikhlasan. Saya datang dengan apa yang saya miliki. Bukan dari kesempurnaan. Kesempurnaan hanya milik Tuhan. Nah, bagi kita apapun konsekuensi hukumnya, harus kita lakukan. Walaupun akan ada Judicial Review ke depan tidak akan ada kriminalisasi, tapi masih tetap terbuka.

 

Misalnya kasus Bibit Chandra. Itu kan by design. Kemudian pada saat dicari orangnya disebut missing link. Padahal memang tidak ada orangnya. Sama juga kalau kita terpilih ke depan, bisa saja skenario by design. Termasuk Antasari. Saya misalnya keluar dari KPK ada yang menabrak, dia bilang ditabrak. Sudah, saya jadi tersangka. Jadi sangat rawan. Makanya, pimpinan KPK harus siap lahir batin. Kriminalisasi masih sangat terbuka. Kalau dibilang wakafkan diri, memang sudah seharusnya begitu.

 

 

 

 

KLIK BALIKPAPAN: Melihat nama-nama tokoh yang sudah dikenal secara nasional masuk menjadi pesaing anda. Apakah tidak gentar?

 

Saya tidak gentar bertarung, karena ini dunia kita. Kita adalah orang yang sering bergerak di bidang pemberantasan korupsi. Apalagi background saya punya kemampuan akuntansi dan pernah bekerja di bidang keuangan dan bergabung dengan perusahaan audit. Sehingga punya pengalaman audit

seperti itu.

 

Ada para jenderal yang saya kenal juga ikut berkompetisi. Saya merasa punya nilai lebih karena saya masih muda. Energi saya banyak. Jadi saya tidak gentar berkompetisi dengan mereka.

 

 

 

KLIK BALIKPAPAN: Di Kalimantan Timur banyak sekali dugaan kasus korupsi kelas “kakap’ yang dianggap belum disentuh KPK. Bagaimana pendapat anda?

 

Saya melihat KPK menghadapi persoalan kekurangan SDM. Kalau dibandingkan dengan Korea Selatan, staffnya sangat banyak. Ada sekitar 90 profesor bergabung di KPK Korea Selatan. Kedua, anggaran yang dikucurkan dari APBN mereka untuk pemberantasan korupsi 0,4 persen. Sementara kita hanya 0,02 persen. Dari sini sudah sangat jelas. Apalagi penduduk kita lebih besar dari Korea. Jadi manalah mungkin, dengan kondisi seperti itu. Harusnya diperbesar. Dengan banyaknya staff, bisa menjangkau ke daerah.

 

(bersambung ke bagian-3)

 

Reporter : Abdul Haris    Editor : Jalaluddin Tsany