• default style
  • blue style
  • green style
  • red style
  • orange style
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Print

Balikpapan Belum Ada yang Minta Perlindungan

Written by piatur. Posted in Informasi

BALIKPAPAN - Meskipun belum ada laporan yang meminta perlindungan saksi, namun lembaga yang memberikan perlindungan bagi para korban dan saksi dari pelanggaran hak asasi manusia berat tetaplah ada. Hal ini terlihat ketika Fakultas Hukum dan Program Pasca Sarjana Magister Hukum Uniba menggelar kuliah umum dengan topic sosialisasi Undang-undang nomor 31 tahun 2014 tentang perubahan Undang-undang nomor 13 tahun 2006 tentang perlindngan saksi dan korban.

 

 

Salah satu narasumber yang didatangkan sebagai pembicara, ialah Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, Dr H Azkari Razak SH, MH. Dijelaskan lembaga yang dimaksud ialah lembaga yang memiliki kewenangan penuh untuk memberikan perlindungan. “Berbagai katagori saksi, seperti korban tindak pidana terorisme, trakfiking, penyiksaan, kekerasan seksual dan penganiayaan berat. Karena selain mengalami kekerasan fisik, tak jarang dari mereka juga menerima kekerasan secara mental dan psikis,” terang Dr Razak di lantai 1 gedung serba guna Uniba saat menggelar kuliah umum, Sabtu (14/3.

 

Lebih dalam lagi dijelaskan, terkait konteks daerah, masih sedikit adanya kejadian ataupun laporan yang masuk. Kasus terakhir yang ditangani oleh pihaknya, yakni saat kasus lubang tambang di kawasan Kota Samarinda, Kalimantan Timur. “Melalui lembaga kami, yakni LPSK kami menangani beberapa orang korban. Untuk di Balikpapan sendiri belum ada permintaan perlindungan saksi, namun tidak menutup kemungkinan adanya peristiwa yang membutuhkan perlindungan dari lembaga kami,” ujarnya.

 

Terkait Kota Balikpapan sendiri, lembaga perlindungan saksi ini bisa mengajukan melalui Piatur Pangaribuan yang bertindak sebagai moderator yang nantinya memberikan pengarahan ataupun tindakan langsung perlindungan saksi. “Meskipun terbilang kondusif, namun kita tidak bisa menutup mata terhadap potensi kejadian atau peristiwa besar. Keamanan Balikpapan sendiri terbilang semu, yang bisa diartikan masih bisa diatasi sejak dini,” ucap Piatur.

 

Peserta yang hadir terlihat sangat antusias dengan pemaparan materi yang disampaikan Razak, terbukti saat sesi pertanyaan ada kurang lebih 20 orang penanya yang kemudan terlibat diskusi yang cukup hangat dengan razak, salah satu pertanyaan yang menarik adalah yang disampaikan oleh kartika yang menanyakan mengapa feriana lim yang merupakan pelapor dalam kasus Abraham samad ditolak permohonannya untuk mendapatkan perlindungan dari LPSK yang kemudian Razak menjelaskan bahwa feriana lim kurang mau bertindak kooperatif dan kasus tersebut kental sekali Tarik menarik kepentingan.

 

Kegiatan kuliah umum berakhir tepat pada jam 9 malam meskipun masih banyak audien yang ingin bertanya, kegiatan ditutup dengan penyerahan plakat kepada wakil ketua LPSK oleh wakil dekan fakultas hukum universitas Balikpapan Bruce Anzward S.H.,M.H, Bruce sendiri menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menambah pemahaman tentang hukum baik oleh mahasiswa dan masyarakat kota Balikpapan, kedepan kegiatan serupa akan terus dilakukan salah satunya bulan april yang akan dating Bruce akan mengundang bidang pencegahan graifikasi Komisi Pemberantasan Korupsi. (dep-Balpos)